Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan Israel-AS, 28 Februari 2026 bukan sekadar akhir dari kepemimpinan seorang individu, melainkan runtuhnya seorang ‘big man’ dari poros yang selama empat dekade memayungi jaringan ideologi, militer, dan politik di kawasan Timur Tengah.
Selama memimpin, Khamenei tidak hanya menjadi pemimpin tertinggi Iran, tetapi juga simbol perlawanan terhadap Barat dan poros spiritual bagi kelompok-kelompok proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman. Kepergiannya menciptakan kekosongan yang tidak hanya bersifat institusional, tetapi juga simbolik, yakni sebuah ruang yang akan sulit diisi oleh penerus mana pun, terutama jika penerus itu berasal dari kalangan militer yang tidak memiliki legitimasi religius yang sama.
Di level regional, kematian ini secara langsung melemahkan apa yang selama ini dikenal sebagai “Poros Perlawanan”. Hizbullah di Lebanon, yang selama ini setia kepada Khamenei, kini menghadapi dilema kepemimpinan spiritual. Mereka harus menentukan apakah akan tetap setia kepada pemimpin baru di Teheran atau mulai mengambil jarak untuk menjaga kepentingan domestik mereka di Lebanon yang juga sedang terpuruk.
Hal serupa terjadi pada milisi-milisi Syiah di Irak dan Suriah, yang selama ini mendapatkan legitimasi sekaligus pendanaan dari Iran. Tanpa sosok Khamenei yang dihormati, kohesi ideologis jaringan ini jika tidak terkonsolidasi, maka berpotensi akan menuju keretakan yang dapat dimanfaatkan oleh lawan-lawan mereka.
Kekosongan tokoh kharismatik ini dapat dimanfaatkan oleh Israel dan Amerika Serikat untuk melakukan intensinya; tidak hanya perubahan rezim tapi juga adalah penguasaan sumber daya alam. Serta, ‘penjinakan Timur Tengah’ dari kekuatan perlawanan. Hal itu telah dilaukan oleh Trump dan Netanyahu melalui pernyataan yang terlihat ‘membela rakyat Iran.’
Serangan yang menewaskan Khamenei sendiri adalah bukti bahwa intelijen dan militer kedua negara telah berhasil menembus jantung pertahanan Iran. Bahkan di medsos, Trump begitu cepat declare bahwa Khamenei telah wafat, sementara Menlu Iran masih menyebut bahwa Khamenei berada di ‘lokasi yang aman’.
Pasca kejadian ini, posisi tawar Iran di meja diplomasi regional jadi melemah, setidaknya itu konsekuensi logisnya. Tapi kita belum tahu apa respons keras Iran selain serangan rudal pada beberapa basis militer AS dan juga ke Israel. Iran sangat mungkin punya senjata pamungkas untuk melawan musuhnya yang sekarang belum terlihat.
Ada satu hal penting untuk dicermati. Jika Iran jatuh ke dalam perang saudara atau perpecahan internal, konsekuensinya tidak akan berhenti di perbatasannya. Gelombang pengungsi baru dapat kembali membanjiri Turki, Irak, dan Eropa. Kelompok-kelompok ekstremis, yang selama ini terkendali oleh kekuatan negara, dapat memanfaatkan kekosongan keamanan untuk bangkit kembali. Sejarah menunjukkan bahwa runtuhnya rezim otoriter di Irak (2003) dan Libya (2011) tidak melahirkan demokrasi, melainkan chaos berkepanjangan.
Dalam konteks ini, respons masyarakat Iran sendiri menjadi faktor penentu yang tidak boleh diabaikan. Demonstrasi anti-rezim yang terjadi sebelumnya dan sampai sekarang mesih ada tampaknya menunjukkan bahwa mereka lelah dengan teokrasi. Mungkin ini dipengaruhi oleh sekularisme sebagai antitesis dari teokrasi yang sangat lekat agama dan negara. Tapi apakah mereka data berdampak pada transformasi fundamental dalam hubungan agama dan negara, tentu saja tidak mudah. Karena selama 40 tahunan ini, Iran sangat kuat dengan teokrasi.
Para aktor eksternal, terutama Rusia dan China, kini berada dalam posisi yang rumit. Keduanya memiliki kepentingan ekonomi dan strategis di Iran, namun tidak ingin terlibat dalam konflik terbuka dengan Barat. Moskow, yang sedang sibuk dengan perang di Ukraina yang tidak tuntas-tuntas, tidak akan rela kehilangan mitra penting di kawasan.
Beijing, dengan investasi besar dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (OBOR), berkepentingan menjaga stabilitas jalur energi. Kedua negara ini kemungkinan akan mencoba memainkan peran sebagai penengah, atau setidaknya memastikan bahwa rezim baru di Teheran tetap ramah terhadap kepentingan mereka.
Pada akhirnya, Timur Tengah pasca Khamenei membawa kawasan pada transisi penuh ketidakpastian. Kita masih harus menunggu apa yang terjadi pasca peristiwa itu sebab dinamika dan pergeseran sangat mungkin terjadi di dunia yang tidak pasti seperti sekarang.
Yanuardi Syukur
Dosen Antropologi Universitas Khairun

Komentar