Ini adalah nasihat dari ayah kepada anaknya, yaitu penyair besar Islam Mohammad Iqbal. Dan pernahkah kita merasakannya? Mudah-mudahan sering.
Banyak orang -termasuk saya- bila ada sebuah masalah berat, kita membuka al Quran dan kita menemukan jawabannya.
Ketika hati gundah, saya ingat al Quran menyatakan,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al Isra’ 82)
Ketika saya membuka al Quran, hati yang gundah ini pelan-pelan menjadi ceria. Menjadi mekar kembali. Ada harapan, dan keoptimisan di hati.
Al Quran memang diturunkan untuk menjadi solusi bagi manusia. Baik solusi politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Bukan hanya solusi lahir, tapi juga solusi batin. Hati yang resah menjadi ceria, hati yang gundah gulana bisa menjadi Bahagia.
Rasulullah kadang berdoa
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk (musim semi) hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan pengusir kegelisahan serta kecemasanku.” (HR Ahmad)
Kita kadang butuh jawaban sesuatu dan kemudian kita buka al Quran, ayat yang pas kita baca memberi jawaban yang kita butuhkan.
Begitulah al Quran , mukjizatnya seringkali personal. Sehingga banyak ulama menyarankan agar kita selalu dekat dengan al Quran. Sayid Qutb ulama besar Mesir, menyarankan agar kita selalu dekat dengan al Quran, karena al Quran selalu memberikan jawaban-jawaban segala permasalah hidup kita. Sayid Qutb menyuruh mereka yang telah membaca tafsir fi Zhilalnya, agar lebih mendekat al Quran langsung daripada tafsirnya.
Ya Al Quran adalah kitab suci pemberi inspirasi terbesar bagi manusia. Tidak ada buku suci sebagaimana al Quran. Tiap hari dibaca, dihafalkan, difahami, dan diamalkan kaum Muslimin. Di rumah-rumah, di kantor, di mushola, di masjid, dan kadang juga di jalan.
Allah SWT mengingatkan kita,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus 57)
Agar hati menjadi lega, kaum mukmin dilarang membiarkan musuh menyerang mereka. Bila musuh menyerbu, kaum mukmin harus membalas melawan. Ini seperti yang dilakukan kaum mukmin di Gaza dan Iran dalam melawan Israel. Al Quran mengingatkan,
قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (At Taubah 14)
Maka, baik dalam kondisi damai atau perang, kondisi bahagia atau sedih, kondisi ramai atau sendirian, al Quran selalu memberi inspirasi dan memberi kebahagiaan. Allah SWT mengingatkan,
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.“ (Fushshilat 44)
Para sahabat Rasulullah dekat sekali dengan al Quran. Mereka membaca, menghafal, memahami, mengamalkan dan menyebarkannya. Mereka benar-benar ingin memahami maknanya, tidak membacanya sambil lalu. Sehingga Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Kami dahulu apabila mempelajari sepuluh ayat dari Al-Qur’an, kami tidak melanjutkan ke sepuluh ayat berikutnya sampai kami mengetahui maknanya dan mengamalkan kandungannya.”
Di dalam sirah diceritakan, Nabi saw pernah meminta Abdullah bin Mas’ud membacakan Al-Qur’an. Ketika sampai pada firman Allah:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (an Nisa’ 41)
Rasululllah menangis hingga air mata mengalir.
Pernahkah kita menangis ketika membaca al Quran? Pernahkah kita mendapat inspirasi yang hebat ketika membaca al Quran? Bila belum, berarti kita perlu lebih pelan lagi, lebih konsentrasi lagi dalam membaca al Quran. Saatnya kita membaca dan memahami al Quran dengan sepenuh hati. Wallahu alimun hakim.
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

Komentar