Oase
Beranda » Kebahagiaan Seorang Murobi

Kebahagiaan Seorang Murobi

Ada sangat banyak kebahagiaan menjadi Murabbi. Salah satunya adalah ketika dikunjungi ikhwah yang dulu pernah menjadi Mutarabbi alias peserta pembinaan.
Tak ada mantan dalam tarbiyah. Tak ada mantan Murabbi. Pun tak ada mantan Mutarabbi. Yang ada hanya perubahan peran.
Kemaren pagi (Jumat 19 Juni 2026) bakda Subuh, enam orang kader dakwah senior Yogyakarta silaturahim ke rumah saya. Usia mereka rata-rata kepala 5. Sebagian sudah punya cucu.
Mereka ini adalah mutarabbi pertama yang pernah saya bina. Pada kisaran waktu 1986 hingga 1990.
Berarti sudah 40 tahun lalu! Peristiwa yang tak mungkin terhapus dari ingatan dan jiwa masing-masing dari kami.
Saat itu tentu saja mereka masih muda belia, kuliah di UGM. Saya selaku kakak angkatan mereka di kampus yang sama.
Kami bertemu di kamar kost, di mushalla, di gelanggang mahasiswa, atau di rumah orangtua mereka. Sepekan sekali. Membina diri.
Hingga akhirnya mereka dianggap layak menjadi pelopor dakwah. Mereka telah menjadi Murabbi yang membina banyak Mutarabbi. Dan kelompok pembinaannya mulai dipisah, tidak lagi dengan saya.
Bagi mereka, saya adalah Murabbi pertama. Bagi saya, mereka adalah Mutarabbi pertama.
Pasti ada hal yang sangat kuat melekat, karena sama-sama peristiwa pertama dalam proses pembinaan. Meski sudah terpisah forum sejak 40 tahun lalu, namun ikatan itu masih sangat kuat.
Ikatan aqidah, ikatan fikrah, ikatan manhaj, ikatan tarbiyah, ikatan ukhuwah. Tak akan pudar ditekan usia, karena kami semua masih berada dalam proses tarbiyah yang sama.
Meski waktu terbentang panjang, dan kami sangat jarang bertemu, namun suasana “reuni” tadi pagi benar-benar menjadi kebahagian luar biasa bagi kami semua.
Bertemu hanya sekedar melepas rindu. Bercanda, tertawa bersama. Mengingat forum tarbiyah 40 tahun lalu itu.
Ada peristiwa, ada ungkapan, istilah, dan hal-hal yang hanya kami mengetahui dan merasakannya.
Misalnya, istilah “Masyaallah masyaallah”. Ini terasa menggelitik ketika salah seorang dari mereka mengucapkannya. Mendadak kami semua tertawa mengingat peristiwa di balik kata kata itu.
Saat itu, setiap forum pembinaan dimulai, selalu diawali dengan tilawah Al-Qur’an. Salah satu dari mereka, kerap salah dan terbata-bata membaca huruf demi huruf dalam Al-Qur’an.
Ketika diingatkan atau dibenarkan kesalahannya, dia selalu mengucapkan kata “Masyaallah masyaallah”. Sebagai tanda mengerti kesalahannya.
Namun salah yang berulang-ulang. Maka ucapan “Masyaallah masyaallah” pun disampaikan berulang-ulang.
Rupanya mereka semua masih mengingat peristiwa itu. Dan sekarang menjadi peristiwa lucu.
Tak terasa dua jam kami bercengkerama. Mereka semua bercerita tentang keluarga, anak, cucu, pekerjaan dan amanah dakwahnya
Saya sungguh terharu sekaligus sangat bahagia. Benar-benar bahagia.
Pertama, karena mereka semua masih istiqamah di jalan dakwah dan tarbiyah hingga hari ini.
Satu kelompok pembinaan 40 tahun lalu, masih utuh sampai hari ini. Tidak ada yang berpindah, berpisah, atau berhenti apalagi mencaci maki. Mereka tetap aktif berdakwah dan tarbiyah, lewat kanal masing masing.
Kedua, anak turun mereka juga berada dalam rumah besar tarbiyah. Meski kanal dakwahnya berbeda.
Sangat senang mendengar kisah anak-anak mereka yang mengikuti jejak kebaikan orangtua.
Ketiga, mereka semua masih segar di usianya yang sudah tak lagi muda.
Kami semua tentu menyimpan penyakit degeneratif. Namun secara umum semua masih segar bugar sehat walafiat. Sebuah nikmat yang tak terkira harganya.
Keempat, mereka masih sangat kompak dan bisa bercanda serta tertawa lepas tanpa ada beban yang mengganggu pikiran atau perasaan.
Alhamdulillah, kebahagiaan ini sungguh luar biasa.
Saya merasa tersanjung dikunjungi oleh mereka. Tak pernah menyangka mendapat kunjungan kelompok pembinaan 40 tahun lalu – – yang masih utuh. Alhamdulillah.
Cahyadi Takariawan.

Berita Terkait

Berita Terbaru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *