Mengikuti LATANSA kali ini, saya sungguh deg-degan. Jujur, saya benar-benar merasa sangat kurang dari segi persiapan, padahal di taklimat partai beberapa kali dihimbau untuk melakukan persiapan-persiapan terutama fisik.
Saya hanya berolahraga sekali seminggu, itupun masih kurang optimal, beberapa hari sebelum latansa saya haidh, sehingga persiapan ruhiyah pun menjadi apa adanya. Namun, semangat untuk ikut, tetap membara. Walaupun semua perlengkapan baru bisa saya siapkan di H minus satu.
Latansa, Latihan Perempuan Siaga, bagi para peserta tak ada pilihan. Mengikuti Latansa adalah sebuah kewajiban. Bukti ketaatan pada pimpinan.
Total peserta dari kota Payakumbuh ada 12 orang. Kami berangkat dengan 2 mobil. Tepat jam 03.30 WIB, saat langit masih gelap dan udara begitu dingin, mobil sudah melaju menuju tujuan.
Perjalanan sangat lancar. Kami sudah sampai di lokasi sekitar jam 06.15 WIB. Mobil tidak mengantarkan sampai ke atas, sehingga kami mesti berjalan mendaki sekitar 1 km dengan kondisi jalan berkerikil dan sedikit becek sisa hujan. Alhamdulillah kami berjalan dengan hati gembira, sambil ngobrol, bernostalgia dan bercengkrama, hingga tak terasa sudah sampai di depan panitia registrasi.
Kami termasuk peserta yang hadir di awal. Satu persatu, para peserta yang lain pun berdatangan. Hati saya menghangat seketika. Melihat para akhwat dan ummahat yang hadir dengan segala perjuangannya.
Ada yang datang dari Kota/ Kabupaten yang jauh, sehingga harus berangkat satu hari sebelum kegiatan, ada peserta yang datang dengan memakai 2 buah kruk untuk bisa membantunya berjalan, ada peserta yang membawa bayi, hamil, bahkan ada yang kondisinya sedang kurang sehat, sehingga berjalan dengan tertatih dan memakai tongkat.
Ya Allah, saya bersaksi bahwa mereka adalah akhwat dan ummahat dengan ruhul istijabah yang tinggi. Meninggalkan keluarga, anak dan suami demi taat pada jamaah ini. Mereka berangkat dalam keadaan ringan dan berat, lapang dan sempit.
Air mata saya berlinang, saya merasa energi, ruh dan semangat para ibu ini berpindah dan mengalir ke seluruh pembuluh darah. Bismillah, saya kepalkan tangan, bertekad untuk mengikuti kegiatan ini seoptimal yang saya mampu, dan saya pun tersenyum merekah.
Ummu Wafa (Payakumbuh)

Komentar