Setiap kali membaca kisah para murabbi hebat yang mampu membina hingga belasan kelompok UPA dalam sepekan, jujur, ada rasa takjub sekaligus kerdil yang menyelinap di dalam dada.
Saya tahu diri. Di atas kertas, saya belum sekuat dan sehebat mereka. Namun, dari sudut sunyi bumi Ranah Minang ini, saya belajar satu hal: bahwa dakwah tidak pernah meminta kita menjadi pahlawan super tanpa cela, melainkan meminta kesetiaan untuk menjaga nyala lilin yang dititipkan di tangan kita sekecil apa pun itu.
Takdir Allah Maha Indah. Begitu lulus kuliah, Allah justru memutar arah hidup saya untuk mengabdi di dunia pendidikan.
Ujian kesetiaan itu semakin nyata saat saya harus ikut suami merantau ke Ranah Minang. Jauh dari sanak saudara, jauh dari keluarga asal, dan harus memulai semuanya dari nol.
Di tengah adaptasi rantau dan padatnya jam kerja, sebuah insiden menyapa: patah kaki. Kejujuran fisik saya ambruk.
Trauma panjang itu tidak hanya meninggalkan bekas di kaki, tetapi juga menyisakan kecemasan mendalam setiap kali ingin melangkah.
Dalam kondisi serba terbatas itu fisik yang belum pulih sempurna, waktu yang terbagi dengan pekerjaan, status sebagai perantau, serta tanggung jawab di struktur dakwah yang juga harus ditunaikan, Allah justru menitipkan amanah yang teramat manis: membina 3 kelompok UPA dengan segmen usia yang berbeda.
Awalnya, ada bisikan yang melemahkan di kala sepi: Kamu ini perantau, kaki masih trauma, kerjaan menumpuk. Istirahatlah, dakwah kan bisa diwakilkan orang lain.
Tapi, benarkah begitu? Ternyata tidak. Tiga lingkaran kecil ini justru menjadi ruang ajaib yang merawat kewarasan saya.
Langkah Kaki yang Tertatih, Ruh yang Berlari
Sisa-sisa trauma patah kaki terkadang masih sering menyapa, membawa sekelumit rasa cemas yang menyerang jasad.
Namun, setiap kali jadwal lingkaran UPA tiba, saya selalu berbisik pada diri sendiri: Jika kaki fisik ini belum bisa melangkah sejauh kaki orang lain, maka biarlah sisa ruang gerak yang ada dihabiskan sepenuhnya untuk menjemput ridaNya.
Itulah mengapa, sebisa mungkin kami selalu mengusahakan pertemuan secara tatap muka offline. Bagaimanapun, bertemu langsung, saling menatap mata, dan bertukar energi kebaikan adalah ruh dari lingkaran kami.
Ruang layar online hanyalah pilihan terakhir yang kami ketuk saat keadaan benar-benar darurat, seperti ketika hujan deras mengguyur bumi Ranah Minang atau saat waktu menemui jalan buntu.
Langkah kaki yang belum pulih sempurna ini menjadi saksi, bahwa jasad boleh saja tertatih, tetapi ruhani harus tetap berlari menjemput amanah.
Menemukan “Rumah” dan Keajaiban Pertolongan Allah
Ajaibnya, setiap kali lingkaran UPA dimulai, rasa lelah bekerja, dinamika menunaikan amanah struktur, dan sepinya menjadi perantau seolah menguap begitu saja.
Saat layar ponsel saya berkedip menampilkan pesan singkat dari salah satu binaan: “Kakak, UPA kan pekan ini?”, ada rasa syahdu dan haru yang luar biasa. Kalimat sederhana itu adalah energi pengetuk pintu langit.
Di tanah rantau yang jauh dari rumah ini, para binaan telah berubah menjadi keluarga ideologis yang justru menguatkan saya. Dan janji Allah itu nyata.
Di tengah kepungan amanah domestik, tugas-tugas struktur, trauma fisik, pekerjaan, dan komitmen merawat 3 kelompok UPA ini, Allah justru bentangkan jalan kemudahan yang tak masuk akal: saya dimudahkan untuk menyelesaikan kuliah Magister di dunia pendidikan.
Dakwah ini sama sekali tidak mengambil waktu saya, ia justru melipatgandakan keberkahan di dalam waktu saya yang sempit.
Saya mungkin hanya membina 3 kelompok, bukan belasan. Langkah saya mungkin pelan dan terbatas, tidak secepat murabbi lainnya. Namun bagi saya, ini adalah pembuktian cinta yang paling jujur.
Kita tidak perlu menunggu diri kita menjadi “sempurna”, menjadi super kuat, atau terbebas dari luka untuk bisa mengambil peran di jalan ini. Karena dalam setiap keterbatasan yang kita bawa dengan ikhlas, di sanalah pertolongan Allah akan turun memeluk kita.
Seberapa pun beratnya beban, jangan pernah lepaskan jemari kita dari lingkaran kebaikan ini. Karena bisa jadi, justru lewat lingkaran kecil itulah Allah sedang mempermudah segala urusan dunia dan akhirat kita.
Leni Parlina (Lubuk Basung, Agam, Sumbar)

Komentar